merupakan fase
kehidupan yang akan dialami oleh setiap wanita. Saat memasuki fase ini,
banyak wanita yang mengeluhkan keluarnya keringat di malam hari.
Normalkah? Atau jangan-jangan ini gangguan kesehatan?
Keringat malam pada wanita menopause dikenal dengan sebutan hot flashes. Kondisi
ini menyebabkan rasa hangat secara tiba-tiba, yang dimulai dari daerah
wajah, leher dan dada. Kulit di daerah pipi pun menjadi kemerahan,
dengan diikuti keluarnya keringat. Bahkan terkadang, jantung berdebar
kencang atau tubuh menggigil.
Hot flashes berkaitan dengan berkurangnya kadar hormon estrogen, di mana kondisi ini turut berpengaruh pada hypothalamus
yang berfungsi menstabilkan suhu tubuh. Terjadi di malam hari, karena
saat di waktu tersebut kadar hormon estrogen menjadi sangat rendah. Ini
menyebabkan hypothalamus menginterpretasikan tubuh untuk
menaikkan suhu. Kemudian otak akan memberikan sinyal pada organ-oran
tubuh untuk menyeimbangkan suhu panas tersebut.
Suhu panas tak hanya membuat tubuh
merespon dengan mengeluarkan keringat, organ jantung juga akan bekerja
lebih cepat. Pembuluh darah di bawah kulit pun akan melebar, sehingga
darah dapat mengalir ke seluruh tubuh dengan cepat guna mengurangi rasa
panas tersebut.
Hot flashes terbagi menjadi dua tipe, yakni:
- Standard Hot Flashes
Tipe ini muncul dan bertahan selama beberapa menit, dengan intensitas panas maksimal.
- Slow hot flashes
Tipe ini dapat bertahan selama setengah jam sampai satu jam, dengan intensitas panas yang rendah.
Jika Anda menopause
dan kerap mengalami keringat malam, tidak perlu khawatir. Kondisi ini
normal dan bukan merupakan suatu penyakit. Agar tidak terlalu sering
mengalami keringat malam akibat hot flashes, hindari merokok,
jaga berat badan tetap ideal, konsumsi asupan bergizi seimbang, cukup
istirahat dan rutin berolahraga. Mudah, bukan?